Kabar bagus buat kamu yang suka makan ikan. Pasalnya sekarang udah ditemuin satu kemasan “ kemasan cerdas “ yang bisa mendeteksi apakah ikan sudah busuk atau masih layak dimakan manusia. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yogi Waldingga Hasnedi, sebagai tugas akhirnya sebagai mahasiswa di Fakultas Tekhnologi Pertanian IPB ini berhasil jadi juara pertama di ajang “ Pemilihan Peneliti Remaja Indonesia (PPRI) tahun 2009 untuk kategori Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik yang dibikin oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Alat pendeteksi ini berupa label yang ditempel di tempat bungkus ikan. Label ini terbuat dari tiga bahan yaitu Polivinil Alkohol, Chitosan Asetat, serta Bromthymol Blue. Seterusnya, setelah tiga bahan ini dicampur, kemudian dihomogenkan dengan ultrasonik trus dicetak di atas kaca preparat sebesar 1,5 cm, kemudian dikeringkan. Setelah itu kaca preaparat dimasukkan ke oven dengan suhu 50 derajat celcius selama 30 menit.

Dari penelitian yang dilakukan selama 15 jam, dengan memakai obyek ikan tanpa tulang, label itu berubah warnanya. Dari kuning, kuning tua, hijau muda, hijau sampe hijau kebiruan. Kalo warna label sudah sampe hijau kebiruan artinya ikannya udah busuk dan gak layak dimakan. Jadi cara kerjanya, label tersebut bisa menangkap sensor gas yang keluar dari ikan untuk menunjukkan tingkat busuknya. Sampe saat ini penelitian yang dinamai “ plastic film “ oleh penemunya ini masih akan terus dilanjutkan karena penelitian ini sifatnya masih pilot project

Surimi adalah produk daging ikan lumat yang telah dicuci dengan air dan dicampur dengan krioprotektan untuk penyimpanan beku. Protein larut air (protein sarkoplasma), enzim, darah, komponen logam, dan lemak akan dikeluarkan selama proses pencucian. Sehingga, daging ikan giling yang telah dicuci akan mengandung sejumlah besar protein serat yang larut garam (protein miofibrilar).

Konsistensi surimi mirip dengan bubur kentang. Myosin dan aktin merupakan komponen utama dari protein ikan yang larut garam (protein miofibrilar) dan berperan penting dalam membentuk karakteristik utama surimi, yaitu kemampuan untuk membentuk gel
yang kokoh tetapi elastis pada suhu yang relatif rendah (sekitar 40oC).

Surimi atau daging ikan giling ini awalnya digunakan sebagai produk antara untuk membuat kamaboko (produk gel ikan). Saat ini, surimi juga digunakan untuk membuat fish ball (sejenis bakso), sosis ikan dan produk seafood tiruan. Produk seafood tiruan yang dibuat dari surimi memiliki tekstur dan nilai nutrisi yang sama dengan produk asli-nya, tapi dengan kandungan kolesterol yang lebih rendah.

Kamaboko merupakan produk olahan ikan yang berbentuk kenyal dan elastis, yang dibuat dari surimi. Bahan baku surimi yang digunakan bisa dalam bentuk surimi yang segar atau yang telah dibekukan. Pembuatan kamaboko pada dasarnya meliputi tahap-tahap pembuatan surimi yang dilanjutkan dengan pencetakan dan pemanasan.

Ikan untuk bahan dasar surimi biasanya dipilih yang volume produksi (hasil tangkapannya) melimpah dengan nilai ekonomis rendah. Bahan mentah ikan yang digunakan dapat terdiri dari satu jenis ikan atau campuran beberapa jenis ikan. Ikan yang digunakan harus bermutu baik. Apabila mutu kesegaran ikan sudah menurun, akan dihasilkan surimi dengan
tekstur yang elastisitas gel yang rendah.  Disarankan untuk memilih ikan berkadar lemak rendah dengan konsistensi daging yang padat dan kandungan
protein miofibrilar yang tinggi agar dihasilkan surimi dengan sifat gel yang baik. Secara umum, ikan air tawar dan ikan berdaging merah mempunyai kekuatan gel yang lebih rendah daripada ikan laut dan ikan berdaging putih. Jika akan diolah menjadi produk imitasi, maka
sebaiknya menggunakan ikan dengan rasa yang tawar agar dapat ditambahkan flavor yang mirip dengan flavor produk aslinya. Warna daging ikan juga akan mempengaruhi warna surimi yang dihasilkan.

Selain daging ikan, bahan lain yang biasa digunakan
adalah air, pati gandum, pati tapioka, putih telur, minyak kedelai, garam, isolat protein kedelai, polifosfat, pewarna, komponen flavor dan bumbu atau
rempah. Jika struktur surimi dibentuk oleh gel, maka bahan-bahan lainnya dibutuhkan untuk membantu menstabilkan dan memodifikasi tekstur.

THP adalah salah satu departemen di Institut Pertanian Bogor di bawah naungan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). THP adalah kepanjangan dari Teknologi Hasil Perairan, dimana departemen ini mempunyai bertujuan untuk menghasilkan tenaga sarjana yang memiliki keahlian dalam bidang teknologi pasca panen hasil perairan dan mendidik mahasiswanya agar mampu menguasai serta menerapkan ilmu dan teknologi di bidang pasca panen sumberdaya hayati perairan.

Dengan kompetensi yang spesifik seperti di atas, alumni lulusan THP (bergelar S. Pi) mempunyai peluang secara global untuk bekerja di beberapa perusahaan penanganan dan pengolahan hasil perairan, pegawai pemerintah (seperti di BAPPEDA, Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Penerangan, dll.), perbankan dan koperasi, LSM, koperasi, pusat data dan sistem informasi, konsultan, staf pengajar, maupun berwirausaha.

Adapun bidang lain yang membutuhkan tenaga alumnus THP secara lebih spesifik yaitu dalam bidang sertifikasi mutu dan industri hasil perairan,riset pengembangan produk hasil perairan, QC untuk proses produksi hasil perairan, maupun peneliti dibidang pra dan pasca panen hasil perairan (bioteknologi perairan, diversifikasi produk, gizi, dll.)